Diceritakan semasa syeh ibnu malik mengarang Al Fiyah dan baru sampai pada bait
Beliau mengalami kemusykilan. Hingga beliau tidak mampu lagi untuk melanjutkn kitab yang akan dikarangnya, bait-bait Al fiyah yang sebelumnya telah tersusun dan terproyeksikan dalam pikiran beliau seakan-akan sirna begitu saja tanpa bekas yang berarti dan tanpa sebab yang dimengertinya, setelah beberapa hari kemudian dalam sebuah tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalnya, dalam mimpinya tersebut orang tadi bertanya kepada Ibnu Malik “saya mendengar bahwa kamu telah mengarang kitab Alfiyah yang menerangkan ilmu Nahwu, benarkah itu”? ya jawabnya. “sampai dimanakah kamu mengarang kitab tersebut”? beliu kemudian mejawab sampai batas karangannya, “ mengapa kamu tidak melanjutkannya ? semenjak hari itu saya tidak mampu. “apakah kamu ingin melanjutkannya?. Sudah barang tentu saya ingin melanjutkan karangan tersebut” jawabnya. kalau kamu memeng masih ingin melanjutkannya ketahuilah wahai Ibnu Malik bahwasannya seorang yang masih hidup terkadang mampu untuk mengalahkan seribu orang mati” mendengar jawaban ini Ibnu malik merasa kaget, saat itulah beliau tersadar dari apa yang ia ucapkan dalam salah satu bait yang dikarangnya.
Dalam bait tersebut jelas sekali beliau lebih mengunggulkan kitab Alfiyah hasil karyanya ketimbang kitab Alfiyah hasil karya ibnu mukti yang juga bernama Alfiyah. Secara spontanitas beliau bertanya “apakah kamu yang bernama Ibnu Mukti”? orang tersebut menganggukkan kepala. Seketika itu juga Ibnu Malik merasa malu kepada Ibnu Mukti. Keesokan harinya beliau kemudian meralat lafadz yang telah di kiaskan oleh Ibnu Mukti dangan bait yang lain.
Itulah sekelumit cerita atau kisah yang dialami syiekh Ibnu Malik sewaktu mengarang kitab Alfiyah, dari situ kita bisa mengambil hikmah yang besar bahwa “ sehebat apapun kepandaian yang kita miliki kita tak perlu sombong dengan membanggakan diri sendiri sebagai yang terbaik dari yang lain.
Ibnu Malik adalah ulama besar, kini beliau telah meninggalkan kita, beliau wafat pada malam Rabu tanggal 12 Sya’ban 672 H. Tapi namanya sampai sat ini masih kita sebut, dan hasil karyanya masih kita geluti. Beliau seakan-akan masih hidup ditengah-tengah kita. Dan marilah kita do’akan semoga Allah Swt. menerima semua amal bijak beliau. Amin. Wallahu a'lam
Sumber : Ibnu hamdun, Al Asmuny )
Oleh : Al baqier
Beliau mengalami kemusykilan. Hingga beliau tidak mampu lagi untuk melanjutkn kitab yang akan dikarangnya, bait-bait Al fiyah yang sebelumnya telah tersusun dan terproyeksikan dalam pikiran beliau seakan-akan sirna begitu saja tanpa bekas yang berarti dan tanpa sebab yang dimengertinya, setelah beberapa hari kemudian dalam sebuah tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan seseorang yang tidak dikenalnya, dalam mimpinya tersebut orang tadi bertanya kepada Ibnu Malik “saya mendengar bahwa kamu telah mengarang kitab Alfiyah yang menerangkan ilmu Nahwu, benarkah itu”? ya jawabnya. “sampai dimanakah kamu mengarang kitab tersebut”? beliu kemudian mejawab sampai batas karangannya, “ mengapa kamu tidak melanjutkannya ? semenjak hari itu saya tidak mampu. “apakah kamu ingin melanjutkannya?. Sudah barang tentu saya ingin melanjutkan karangan tersebut” jawabnya. kalau kamu memeng masih ingin melanjutkannya ketahuilah wahai Ibnu Malik bahwasannya seorang yang masih hidup terkadang mampu untuk mengalahkan seribu orang mati” mendengar jawaban ini Ibnu malik merasa kaget, saat itulah beliau tersadar dari apa yang ia ucapkan dalam salah satu bait yang dikarangnya.
Dalam bait tersebut jelas sekali beliau lebih mengunggulkan kitab Alfiyah hasil karyanya ketimbang kitab Alfiyah hasil karya ibnu mukti yang juga bernama Alfiyah. Secara spontanitas beliau bertanya “apakah kamu yang bernama Ibnu Mukti”? orang tersebut menganggukkan kepala. Seketika itu juga Ibnu Malik merasa malu kepada Ibnu Mukti. Keesokan harinya beliau kemudian meralat lafadz yang telah di kiaskan oleh Ibnu Mukti dangan bait yang lain.
Itulah sekelumit cerita atau kisah yang dialami syiekh Ibnu Malik sewaktu mengarang kitab Alfiyah, dari situ kita bisa mengambil hikmah yang besar bahwa “ sehebat apapun kepandaian yang kita miliki kita tak perlu sombong dengan membanggakan diri sendiri sebagai yang terbaik dari yang lain.
Ibnu Malik adalah ulama besar, kini beliau telah meninggalkan kita, beliau wafat pada malam Rabu tanggal 12 Sya’ban 672 H. Tapi namanya sampai sat ini masih kita sebut, dan hasil karyanya masih kita geluti. Beliau seakan-akan masih hidup ditengah-tengah kita. Dan marilah kita do’akan semoga Allah Swt. menerima semua amal bijak beliau. Amin. Wallahu a'lam
Sumber : Ibnu hamdun, Al Asmuny )
Oleh : Al baqier
Tidak ada komentar:
Posting Komentar